Ada seorang hamba Tuhan ( 'abid ) yang taat beribadah di kuilnya dilereng sebuah gunung. Ia melakukan ketaatan itu sudah seratus tahun.Pada suatu hari setan menggodanya agar ia beristirahat barang beberapa hari saja dan diteruskan lagi sesudahnya.apa lagi ia mengalami kejenuhan di sana selama seratus tahun itu.
Hamba itu pun turun gunung meninggalkan kuilnya dan memasuki kota untuk mengunjungi kerabat dan teman-temannya di jalan Allah.Ketika bertemu dengan salah seorang temannya, ia diajak masuk kedalam rumah, bahkan ia di minta untuk membantu menyelesaikan pekerjaan-pekerjaannya. Dia merasa punya kepedulian sesama, maka ia kemudian berjanji untuk membantu temanya seperti yang di minta.
Waktu terus berjalan, dan tanpa disadari ia telah melewatkan waktu tujuh bulan.sampai tibalah malam itu, malam yang menganugrahinya mimpi, yakni sebuah mimpi yang memberi peringatan dan mencoba membangun kesadarannya kembali.
Didalam mimpinya itu ia melihat seorang pemuda yang sangat tampan dan bersih pula pakaiannya. Pemuda itu lalu berkata kepadanya,”aku adalah seorang Rosul utusan Allah. Aku di sini ingin bertanya kepadamu, adakah kekurangan atau cacat yang engkau lihat dari Allah dan Rosul-Nya, sehingga engkau meninggalkan peribadatan mu? Maka, alangkah lebih baiknya bila engkau segera kembali ke kuilmu sebelum kematian datang dan tak ada lagi memberimu harapan”.
Mimpi itu membuatnya menjerit ditengah malam serta menggetarkan seluruh sendi-sendi tubuhnya. Maka, malam itu juga, ia berpamitan, meninggalkan rumah temannya itu dan kembali ke kuil.
Di saat perjalanan pulang, hamba tuhan itu pun harus mengarungi gurun Sahara yang tandus, minum hanya dari tetesan air hujan yang turun, dan hanya makan dedaunan dari pohon yang tumbuh dan ditemuinya di jalan. Hamba Tuhan itu pun tak henti-hentinya memohon, “Illahi...... tubuhku telah menjadi aib, hatiku diliputi duka, lisanku telah berbuih dengan dosa-dosa. Maka, ampunilah dosa-dosa ku wahai Sang Maha Pengampun Dosa, wahai sang maha penutup aib dan wahai sang maha mengetahui perkara yang gaib............”.
Sampai akhirnya, ketika telah sampai di kuil dan berniat memasukinya, ia melihat tulisan. Ia perhatikan tulisan yang terdiri dari empat baris itu dengan teliti.
-serahkanlah urusanmu ( bertaqwalah ) kepada kami, maka kami akan mencukupi mu.
-terimalah ajaran kami, maka kami akan menerima mu (sebagai hamba kami)
-ceraikanlah dosa-dosa mu, maka kami akan memberi ampunan serta mengasihimu.


